Objek Wisata Keagamaan atau Religi Di Bali - DESTINAGIRLS

Hot

Post Top Ad

Saturday, May 2, 2015

Objek Wisata Keagamaan atau Religi Di Bali

Bukan hanya wisata Pantai di Bali yang bikin bali terkenal sampai mancanegara, tapi juga wisata religi, wisata rohani, dan atu wisata keagaaman, berikut beberapa objek wisata

Wisata Religi Masjid Al Qomar Denpasar


Awalnya Masjid ini hanyalah musala namun seiring perkembangan waktu, warga sekitar menyumbangkan tanah yang mereka punya serta mengubahnya menjadi masjid. Masjid itu dibangun di atas lahan seluas 5,9 hektare dengan luas bangunan 3,5 hektare.

Tidak jarang pula warga menyebut tempat ibadah ini sebagai Masjid Demak, dan sering disebut-sebut karena pengaruh Islam yang dibawa dari Demak. Namun, sebutan Masjid Demak terjadi karena lokasinya terletak di jalan Demak.

Bagi yang pertama kali berkunjung ke tempat ini pastinya mengira ini adalah pura. Karena tampilan depan dari Masjid Al Qomar memang terlihat seperti pura.

Namun, arsitekturnya yang terlihat pura ternyata punya makna tersendiri. Warga sekitar mengungkapkan bahwa arsitektur masjid ini merupakan sebuah simbol yang disebut dengan menyama braya, artinya hubungan yang harmonis antarumat beragama.

Pura yang identik dengan Bali dan Hindu serta Demak yang identik dengan Islam, dijadikan sebagai sebuah perwujudan dan pemersatu masyarakat. Khusus di bulan Ramadan, Masjid Alqomar atau Masjid Demak selalu menyiapkan takjil yang banyak beserta makanan berupa nasi untuk umat muslim yang berbuka puasa.

Untuk berkunjung ke tempat ini, kamu bisa langsung menuju Jalan Pura Demak, Pemecutan Klod, Denpasar Barat, Denpasar, Bali.

 Wisata Religi Masjid Al-Hikmah Denpasar



Satu lagi objek wisata religi di Denpasar yang dibangun dengan kearifan lokal. Namanya adalah Masjid Al Hikmah. Masjid ini dibangun pertama kali pada tahun 1978 dengan arsitektur dan ornamen khas Bali.

Menurut informasi warga dan pengurus masjid yang dirangkum Hello-pet, pada awalnya, lokasi Masjid ini merupakan bengkel mobil. Namun pemiliknya memilih untuk pindah ke Arab. Nah, sebelum pergi, sang pemilik mewakafkan tanahnya untuk dibuatkan sebuah masjid.

Ditambah lagi pada tahun 1995, dilakukan pemugaran pada Masjid Al Hikmah, yang membuat kesannya menjadi lebih megah. Sama dengan Masjid Al Qomar, pertama kali melihat bagian depannya dihiasi dengan ceplok bunga, kepala naga banda, serta aneka ornamen lain khas Bali.

Hampir sama dengan Masjid Al Qomar, Masjid Al Hikmah juga melambangkan kerukunan antar umat beragam di Bali, khususnya antara Hindu dan Islam.

Jika kamu ingin berkunjung ke tempat ini, silahkan singgah di Jl Soka 18, Denpasar, Bali dan mari berbagi pengalaman yang kamu punya bersama tim Hello-Pet.


Wisata Rohani Gereja Katolik Santo Yoseph Denpasar



Selain masjid, ternyata ada juga gereja yang bisa dijadikan sebagai objek wisata di Denpasar.

Pertama, Gereja Katolik Santo Yoseph. Sejarah singkat Paroki Santo Yoseph Denpasar bermula pada September 1935 ketika Mgr. H. Leven, SVD Uskup yang berdomisili di Ende, Flores Nusa tenggara Timur mengutus Pastor Johanes Kersten untuk melayani umat Katolik yang ada di Bali. Pada 14 februari 1937, datang 7 orang dari Tuka, yang meminta untuk dibaptis saat itulah pembaptisan pertama dilakukan di Bali. Johanes Kersten menyewa sebuah gudang di Jalan Kepundung 2 untuk melayani umat Katolik dan tentara KNIL yang beribadah.

Selanjutnya, tanah yang sekarang terdapat di Jl, Kepundung tersebut dibeli, dan dijadikan kapel (gudang kecil), lalu didirikanlah gereja pada tahun 1952. Arsitek yang merancang gereja Santo Yoseph ini adalah Ir. Ida Bagus Tugur, desainer Bajra Sandhi, dan seorang arsitek dari Belanda, Bruder Ignatiusde Vriteze Svd. Tentunya, tempat ini menjadi salah satu objek wisata religi yang menarik di Denpasar, Bali.

Ingin tahu seperti apa penampakan gereja ini secara langsung? Kamu bisa langsung berkunjung ke Jl. Kepundung No.2, Dangin Puri, Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali atau menghubungi nomor telepon (0361) 222729 untuk menanyakan pelayanan ibadah.

Wisata Rohani Katedral Roh Kudus Denpasar


Kehadiran Gereja Katedral Roh Kudus ini pada awalnya dimulai ketika masa kegembalaan Mgr. Paulus Sani Keleden,SVD yang dilanjutkan melalui Mgr. Antonius Thijssen,SVD, Mgr. Vitalis Djebarus,SVD dan Mgr. Benyamin Bria,Pr.


Gereja ini bisa terhitung baru, karena awal pembuatannya dimulai pada tanggal 15 Agustus 1993. Hampir sama dengan Gereja Katolik Santo Yoseph dan dua masjid yang Hello-Pet ceritakan sebelumnya, gereja ini sangat lekat dengan kearifan lokal khas Bali

Filosofi pembangunan gereja ini mengacu pada Asta Kosala-Kosali Bali yang menggambarkan naik ke gunung Tuhan dan disapa oleh Tuhan melalui bahasa simbol iman Kristiani yang tertuang dalam kultur serta seni budaya Bali.

Halamannya cukup luas, karena selain Gereja terdapat juga sebuah aula sebaguna dan gedung sekretariat. Penasaran seperti apa? Langsung kunjungi saja gereja ini di Jalan Tukad Musi No.1, Renon, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali, atau hubungi nomor telepon di (0361) 241303.


Sembahyang di Pura Agung Jagatnatha Denpasar


Pura, tentunya akan selalu dan sering dilihat selama perjalanan di Bali. Kali ini kami akan bercerita tentang kehadiran Pura Agung Jaganatha yang dapat dijadikan sebagai objek wisata religi selama kamu berada di Denpasar.

Pendirian Pura Jagatnatha ini berawal dari perwujudan realisasi keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dalam pasamuhan Parisada Dharma Hindu Bali, pada tanggal 20 November 1961.

Cerita masyarakat mengungkapkan bahwa pembangunan pura ini tidak langsung dibangun begitu saja, namun melalui sebuah ilham. Pura Agung Jagatnatha diresmikan melalui upacara kecil pada 13 Mei 1968.

Pura Agung Jagatnatha memiliki keunikan karena tidak adanya Pengempon (kelompok masyarakat yang mengelola pura ini). Namun, bukan berarti tidak ada yang merawat, karena Pura Agung Jagatnatha hanya memiliki beberapa orang yang mengelola dana mulai dari pembangunannya sampai untuk upacara yang dilakukan untuk umat Hindu.

Beberapa keistimewaan dari pura ini di antaranya adalah kehadiran gambar Acintya, simbol atau perwujudan dari kemahakuasaan Tuhan, yang dulunya dilapisi emas. Namun informasi yang Hello-pet dapatkan, emas tersebut hilang diambil pencuri pada tahun 1981. Lukisan Acintya, sendiri merupakan simbol dari keberadaan Tuhan tanpa bisa dibayangkan sama sekali.

Terdapat juga hiasan yang tidak hanya menjadi pemanis, namun sebuah simbol keanekaragamanan kehidupan yang ada di dunia ini seperti Karang gajah/Asti, Karang goak, dan Simbar. Maknanya adalah, Tuhan telah melengkapi segala yang ada di kehidupan melalui tumbuhan, binatang, manusia, hingga para Dewa yang merupakan manifestasi Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Silahkan kunjungi pura ini untuk menikmati objek wisata dan penglaman sejarah yang mungkin belum pernah kamu temukan sebelumnya di Jalan Dangin Puri, Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali.


Wisata Religi di Pura Maospahit Denpasar



Pura Maospahit merupakan peninggalan dari Kerajaan Majapahit yang dibangun pada abad 14-15 Masehi. Sejarah mencatatkan bahwa pura ini pada awalnya dibangun oleh Sri Kebo Iwa yang membangun Candi Rasas Maospahit tahun 1200 Saka (1278 Masehi), dan kemudian dikembangkan menjadi sebuah pura.


Menariknya, Maospahit tidak hanya pura biasa namun memiliki bagian-bagian yang sangat simbolik.


Misalnya, Kori Agung yang pada bagian mahkotanya berukir citra kuno dari khas Majapahit. Terdapat juga sebuah Candi Raras yang berfungsi sebagai panyawangan bangunan suci untuk menghubungkan diri dengan dewa-dewa atau roh leluhur yang bertempat jauh, yaitu Majapahit.

Satu lagi yang membuat Pura ini sangat istimewa, yaitu menjadi salah satu tempat Cagar Budaya Nasional yang ada di Denpasar. Penasaran seperti apa menelusuri keunikan Pura Maospahit?Kamu bisa langsung menuju Jalan Sutomo, Pemecutan Kaja, Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali.


Wisata Klenteng Cao Fuk Miao Denpasar

Suatu kota biasanya selalu memiliki tempat ibadah bernama klenteng yang selalu menjadi daya tarik objek wisata religi. Begitu juga dengan Denpasar. Sebuah Klenteng bernama Cao Fuk Miao yang disebut juga dengan Kelenteng Pancaran Bahagia berdiri megah di Denpasar.

Klenteng Cao Fuk Miao diresmikan pertama kali dikenalkan pada masyarakat di tangga 19 Februari 2007 oleh Ida Pedanda Ketut Sidemen dari Gria Taman Kelodan, Sanur.

Kemudian dilanjutkan dengan prosesi pembersihan altar dilakukan pada hari Minggu, 25 Februari 2007, yang dilanjutkan peresmian oleh Kakanwil Depag Provinsi Bali pada tanggal 4 Maret 2007.

Lagi-lagi kearifan lokal Bali hadir pada Klenteng Cao Fuk Miao ini. Kamu bisa melihatnya melalui pintu gerbang dari klenteng ini dibuat seperti halnya rumah-rumah di Bali.

Jika sudah masuk ke dalam kamu akan menemukan tujuah buah altar diantaranya adalah YM Sue Wie Shen Niang (dewi penguasa laut selatan), Kwan Im Po Sat, Thian Sang Shen Mu, San Ciao Shen Ren, Fu Te Cen Shen, Kwan Shen Ti Jin, 108 Ya Ti Kung (108 arwah dewa dagang antar pulau).

Untuk menuju ke Ibadah ini ini kamu tinggal mengarah ke Jalan Kargo Permai II No. 9, Denpasar, untuk melihat lebih dalam seperti apa sih sebenarnya Klenteng Cao Fuk Miao.

Wisata Ziarah Denpasar Keramat Agung Pemecutan


Sebuah makam biasanya kerap dikaitkan dengan salah satu objek wisata religi. Nah, kali ini terdapat sebuah makam di Denpasar yang bisa dijadikan sebagai objek wisata religi.


Sebuah makam seorang puteri muslim yang bernama Raden Ayu Siti Khotijah dan bernama asli Ayu Made Rai serta lebih dikenal dengan nama Raden Ayu Pemecutan ada di sini.


Dari sejarah yang beredar Raden Ayu Siti Khotijah merupakan putri dari Raja Pemecutan yang pernah berkuasa di Badung, Bali.

Singkat cerita Raden Ayu Siti Khotijah yang sebelumnya beragama Hindu, kemudian menjadi mu’alaf setelah menikah dengan Cakraningrat IV, seorang pemimpin dari Madura Barat

Namun, kisah tragis justru menghampiri Raden Ayu Siti Khotijah, ketika akan menunaikan Ibadah Shalat. Para pengawal dan patih yang melihat Raden Ayu Siti Khotijah menggunakan kerudung untuk beribadah diduga sedang mengeluarkan ilmu hitam atau dikenal sekarang dengan sebutan Leak. Cerita sejarah juga mengungkapkan bahwa Raden Ayu Siti Khotijah dibunuh karena kesalahpahaman rajanya sendiri.

Kesalahpahaman ini pun akhirnya berakhir dengan kematian Putri Raden Ayu Siti Khotijah. Namun sebelum wafat, Raden Ayu Siti Khotijah membuat sebuah permintaan “Jika dari badanku akan keluar asap dan berbau busuk, maka tanamlah aku. Tetapi apabila mengeluarkan wangi yang harum, maka buatkanlah aku tempat suci yang disebut kramat.”

Ternyata, setelah wafat, wangi harum lah yang muncul dari jasad Raden Ayu Siti Khotijah, dan kemudian makamnya dikeramatkan.

Cerita unik lain dari makam ini adalah munculnya sebatang pohon setinggi 50 sentimeter. Ternyata, setelah tiga kali ditebang pohon ini selalu muncul. Menurut penerawangan juru kunci dari makam Raden Ayu Siti Khotijah menyebutkan bahwa pohon itu merupakan “titipan” dari Raden Ayu Siti Khotijah untuk selalu dijaga dengan baik.

Setiap harinya, makam Raden Ayu Siti Khotijah selalu ramai diziarahi umat Islam, khususnya menjelang bulan suci Ramadan untuk meminta petunjuk atau pun mencari sebuah ilham.

Penasaran seperti apa sebenarnya makam Raden Ayu Siti Khotijah ini? Kamu bisa langsung ke tengah setra Badung, tepatnya di jalan Gunung Batukaru sekarang.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad